RIVALITAS AS-CHINA UJI SOLIDARITAS ASEAN

 Image

Text by Indra Arief Pribadi

          Jakarta, 29/6 (Antara) – Rivalitas dua negara adidaya Amerika Serikat dan China untuk memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara, termasuk masalah teritorial laut China selatan, merupakan “batu sandungan” dan ujian terhadap solidaritas negara anggota Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
      Masalah klaim perairan laut China selatan yang sudah berpuluh tahun bergejolak, diyakini berbagai kalangan sulit untuk diselesaikan, meskipun dengan pengaruh organisasi kawasan dan internasional.
      Empat negara ASEAN, Filipina, Vietnam, Brunei Darusalam, dan Malaysia merupakan empat negara pengklaim wilayah, yang masih berselisih dengan China.
      Beijng mengklaim sebagian besar wilayah kaya minyak, gas bumi, dan sumber daya perikanan dengan letak strategis itu, merupakan kedaulatannya.

      Kode Tata Berperilaku (Code of Conduct/CoC) yang merupakan salah satu mandat dari Deklarasi Tata Berperilaku (Declaration of Condcut/DoC) pada 2002, merupakan “impian” negara-negara kawasan, yang dapat menjadi pegangan berperilaku di wilayah perairan itu.
      Ketika kepercayaan dan suasana kondusif laut China selatan mulai terjalin, tepatnya sejak komitmen yang diutarakan Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi seusai bertemu Menlu Indonesia Marty Natalegawa pada 2 Mei 2013, keretakan mulai mewarnai hubungan antarnegara pengklaim dengan berbagai insiden yang terjadi.
       Filipina, negara ASEAN yang paling sering bersitegang dengan China pada beberapa tahun ini, pada Rabu (27/6) mengumumkan peningkatan jumlah akses Amerika Serikat (AS) dan Jepang ke pangkalan militernya.
       “Pemerintah Filipina berencana merancang undang-undang yang memungkinkan AS menghabiskan banyak waktu di pangkalan militer Filipina. Hal ini juga akan ditawarkan kepada militer Jepang,” kata Menteri Pertahanan Filipina Voltaire Gazmin di Manila.
       Apabila ada kesepakatan pemberian akses, lanjut Gazmin, maka akan ada peralatan datang dari kedua negara.
      “Sejauh Jepang menginginkannya, kami menyambut negara lain — terutama Jepang, mengingat mereka mitra strategis — untuk diselaraskan dengan protokol yang ada,” ujarnya menambahkan.
       Alih-alih meredakan suasana, Jepang malah memberikan pernyataan yang cukup konfrontatif dengan merujuk langsung pada sengketa perairan yang melibatkan China.
       Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera  mengatakan, dirinya dengan pemerintah Filipina sudah mempererat kerja sama mengenai sengketa di perairan Asia Timur, yakni laut China selatan dan laut China timur.
      “Kami menghadapi situasi serupa di wilayah Laut China Timur. Jepang kahwatir kondisi di Laut China Selatan dapat mempengaruhi kondisi di laut China timur,” kata Onodera.
      Sebelumnya, Filipina sudah beberapa kali bersitegang dengan China mengenai aksi di perairan sengketa. Tindakan kapal militer China yang mengitari pulau yang diklaim Filipina di perairan itu, memancing “amarah” Presiden Filipina Benigno Aquino III.
      Namun, Filipina pun tak kalah gegabahnya ketika menembak nelayan Taiwan hingga tewas, sehingga sempat membuat situasi di Laut China Selatan menegang.
      Beberapa hari setelah Filipina mengumumkan pemberian akses terhadap AS dan Jepang, Menlu China Wang Yi pada Jumat (28/6) mengingatkan seluruh negara pengklaim wilayah di Laut China Selatan tentang potensi konflik yang dapat berujung pada “malapetaka” karena kehadiran pihak ketiga.
      “Bila beberapa negara-negara pengklaim itu memilih konfrontasi, jalan yang akan mereka tempuh akan menimbulkan malapetaka. Bila negara tersebut memperkuat klaimnya yang lemah dengan melibatkan kekuatan negara asing, upaya mereka akan sia-sia. Itu hanya menyebabkan kesalahan,” kata Wang Yi.
       Pengaruh dua negara dengan kekuatan ekonomi dan pertahanan terbesar di dunia ini dianggap akan mendominasi dalam isu-isu hubungan internasional pada abad 21.
       Menurut pengamat masalah pertahanan dan hubungan internasional Universitas Indonesia Andi Widjajanto, China tengah berusaha menyamakan kekuatannya dengan AS, baik dari sisi ekonomi maupun militer, dan sistem aliansi kedua negara akan mendominasi Asia, termasuk Asia Tenggara.
        Rivalitas dan pengaruh AS dan China dikhawatirkan membuat negara-negara di Asia Tenggara yang terlibat sengketa perairan berpaling pada kepentingan lain dibandingkan stabilitas keamanan kawasan.
        Andi mengatakan AS sudah memelihara sistem aliansinya dengan Jepang, Korea Selatan, Filipina, Thailand, Singapura.
         Seiring dengan  kebijakan pivot AS di Asia Pasifik, diperkirakan akan terjadi pengerahan 60 persen kekuatan angkatan laut negara adidaya itu hingga 2020. Untuk memperkuat pengawasan mereka di Asia Pasifik, AS juga dianggap mempertahankan keberadaan pasukannya di Darwin, Australia, dan terus menambah pengiriman armada tempur ke Singapura.
          Kebijakan-kebijakan ini seakan membuat gejolak China yang juga “beringas” dalam meningkatkan anggaran militernya. Beijing juga diketahui memiliki pengaruh kuat terhadap negara-negara ASEAN, yakni Kamboja, Laos, Myanmar.
          Selain itu, pernyataan Beijing yang mengaku berkomitmen menjaga stabilitas dianggap belum diterjemahkan dengan baik di kawasan perairan.
         Ketika pengaruh dua negara raksasa ini terus meluas dan merasuki negara-negara ASEAN, hal itu  harus “dibentengi” dengan rasa kepemilikan dan solidaritas antarnegara-negara kawasan, kata pengamat hubungan internasional Makarim Wibisono.
         “Pengaruh dua negara raksasa ini sebenarnya merupakan ujian untuk melihat sejauh mana solidaritas negara-negara ASEAN,” kata Makarim, yang juga Direktur ASEAN Foundation.

Komitmen pada CoC
       Setelah kedatangan Menlu China Wang Yi ke Jakarta untuk bertemu Menlu Marty Natalegawa pada 2 Mei 2013, banyak pihak menilai China menunjukan komitmennya untuk mendukung terwujudnya CoC.
       Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Central for Strategic and International Studies (CSIS) Rizal Sukma berpendapat CoC memang bukan untuk menyelesaikan masalah klaim wilayah, namun untuk membangun kepercayaan antarnegara yang bersengketa.
       Ketika kepercayaan sudah terjalin, masalah klaim dapat diselesaikan secara bilateral, kata Rizal kepada Antara saat menyikapi perselisihan Filipina dengan China pada (30/5).
       Menjelang pertemuan rutin ASEAN, termasuk pertemuan rutin yang dimulai akhir pekan ini  di Brunei Darusalam, diperlukan komitmen negara-negara yang bersengketa untuk menahan diri dari segala sikap dan tindakan yang dapat provokatif, kata Rizal.
       Menurut Rizal, AS dan China, memang terlihat sebagai “pemain di belakang layar” isu Laut China Selatan.
       Namun, menurut dia, AS tidak akan gegabah untuk memancing ataupun terpancing melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi pada konflik terbuka karena kepentingan AS, di laut China Selatan hanya jalur navigasi untuk akses perdagangan.
        Filipina merupakan negara yang paling aktif, mencari dukungan mengenai klaim wilayah Laut China Selatan. Selain dari AS, dan ASEAN, Filipna juga membawa masalah Laut China Selatan ke Mahkamah Internasional dengan acuan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS).
       Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Michael Tene, pada akhir Mei lalu, saat menyikapi konflik Filipina dan China karena aksi kapal militer, mengatakan segala konflik yang terjadi di perairan Laut China Selatan merupakan indikasi arti pentingnya kesepakatan antara China dengan negara-negara ASEAN.
        CoC nanti, kata Tene, akan mengatur hal-hal teknis seperti kegiatan kapal di perairan Laut China Selatan secara mendetail, masalah perikanan, serta hal-hal lainnya untuk mencegah timbulnya konflik di jalur perdagangan strategis itu.
       Pengaturan kegiatan kapal ini untuk membuat tatanan perilaku yang sudah disepakati bersama dan memiliki dasar, sehingga jika timbul konflik, penyelesaian dapat kembali merujuk pada acuan di CoC.
        Jika terjadi insiden antarnegara, CoC juga akan mengatur segala mekanisme untuk penyelesaian insiden tersebut.
       “Dengan adanya CoC ini, sebenarnya dapat dihindari upaya-upaya yang mengakibatkan masalah dan lebih ke langkah meningkatkan perdamaian. Masing-masing negara pun perlu mengutamakan dialog, dan negoisasi damai dalam setiap masalah,” ujar Tene.
       Pada pertemuan rutin ASEAN di Bandar Seri Begawan, Brunei Darusalam pada 27 Juni hingga 2 Juli 2013 ini, Menteri Luar Negeri AS John Kerry dijadwalkan hadir dan akan mengangkat isu Laut China Selatan.
       Mengutip situs Sekretariat ASEAN, pertemuan rutin itu terdiri atas  pertemuan tingkat ASEAN (AMM) ke-46, Forum Kawasan ASEAN (ARF) ke-20 dan pertemuan kawasan Asia Timur (EAS) ke-3.
        Sejumlah isu hangat di pertemuan itu akan dibahas, terutama mengenai sengketa Laut China Selatan, selain traktat kesepakatan kawasan bebas senjata nuklir (SEANWFZ), polusi asap akibat kebakaran hutan dan krisis semenanjung Korea.

    Strategi Ganda

   Menurut Andi Widjajanto, setelah pengakuan setiap negara bersengketa dengan keberpihakan pada jalur diplomasi atau pertemuan-pertemuan rutin, tidak ada jaminan retorika dan sikap negara provokatif itu akan terhenti.
   Andi menyebut hal itu sebagai strategi ganda negara-negara Asia. Tatkala pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, sejumlah negara yang bersengketa ingin terus memperkuat kapasitas militer, namun tetap tampak bersahabat dalam setiap forum diplomasi.
   Duta Besar China untuk Indonesia Liu Jianchao pernah mengomentari mengenai kecaman negara-negara anggota ASEAN termasuk AS terhadap aksi China menyangkut sengketa perairan.
    Jianchao mengatakan apa yang diklaim Beijing dan apa yang telah dilakukan selama ini di kawasan perairan merupakan hak sebuah negara berdaulat dan tidak pantas disebut provokatif.
   “China menjadi bagian dari kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa, termasuk negosiasi dan tentunya dengan berbagai kebijakan di dalamnya. Kami tidak melihat ada alasan apapun untuk menyebut China bertindak provokatif,” kata Jianchao  kepada Antara awal bulan lalu.
    Namun, Jianchao menyetuji arti penting dan urgensi komitmen menuju CoC, seraya menambahkan perlunya perhatian terhadap fakta sejarah untuk menyelesaikan masalah klaim.

Editor : Zuhaeri Abdullah



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s