LAGA PARA KESATRIA DEMI LARASATI

  

   Bak jagoan nun Barat Rambo, Raden Samba prajurit Arjuna semakin menjulang, menasbihkan keperkasaannya. Raden Samba menghentak keenam prajurit dengan gerakan kaki dan tangan yang melintang cepat, dihiasi permainan lampu sorot panggung lakon Udowo Sayemboro.

     Dua orang prajurit sudah menggelepar, pasukan ketiga dan keempat harus merelakan badannya diremuk oleh pukulan Raden Samba. Tak jauh dari kumpulan tubuh prajurit yang sudah tak berdaya, dua prajurit lainnya kebingungan sekaligus juga ketakutan.

    Tak dinyana, dua prajurit itu saling membenturkan kepalanya dan pingsan seketika.

   Gelak tawa penonton menyambut aksi itu membahana di Gedung Bharata Yudha di Jalan Kalilio 15, Jakarta, tempat pementasan lakon yang disutradarai Darianto Supono, Sabtu.

    Arena pentas yang diterangi sepuluh lampu dan di depannya terpajang sebuah monitor berisikan teks berjalan berbahasa Indonesia itu mengisahkan Patih Udowo yang sedang mencarikan suami untuk kakaknya Endang Larasati melalui sayembara.

   “Saudara-saudara Udowo sudah menjadi Prabu dan Patih, tapi Larasati masih menjadi selir. Udowo ingin mengangkat status larasati menjadi permaisuri,” ujar Darianto.

   Prabu Kresna setuju dengan sayembara Udowo. Lain halnya dengan Prabu Baladewa.

Ia menantang Udowo dan terjadilah pertarungan sengit antar keduanya. Prabu Kresna meminjamkan pusaka Wisogondo agar Udowo dapat mengalahkan Baladewa.

    “Aksi mereka menghibur sekali. Gerakan mereka kompak dan terlihat sangat terlatih,”, ujar salah satu penonton Danang Ismanto (41).

   Raden Samba dan Setiyaki yang baru saja membunuh Prabu Kalorodukso kembali ke Kasatriaan Madukoro mengabarkan ikhwal sayembara ini kepada Arjuna. Sang Arjuna yang sedang sakit dan ditemani beberapa istrinya langsung beranjak ke Padepokan Widarakandang untuk memperistri Larasati.

  Setiba di Widarakandang, pintu Arjuna tertutup oleh Udowo.

  Kaki kuat Udowo berpijak pada dinding kemudian meloncat tinggi menghindari kepalan pukul Arjuna. Giliran Udowo yang menyerang dengan melontarkan tendangan ke arah dada Arjuna.

   Arjuna dengan busur panah di punggungnya menghentak ke belakang untuk menghindari serangan Udowo dan seketika memojokan patih anak dari Antagopa itu.

  Riuh rendah musik dari perangkat gamelan yang dimainkan beberapa orang di depan panggung menambah semarak pertarungan keduanya

   Udowo terpojok dan merasakan temaram akibat digdaya kekuatan Arjuna. Akhirnya dia terbunuh di tangan Arjuna.

   Prabu Kresna yang mengetahui hal itu mencoba memelihara asa sang patih dengan menghidupkannya kembali menggunakan pusaka Kembang Wijayakusuma.

   Arjuna yang tidak bisa membunuh Udowo akhirnya lari karena malu bertemu dengan saudara Udowo yaitu Subadra. Namun Kresna mencoba menengahi mereka.

   Sang Prabu juga meminta Subadra menanyakan kepada Arjuna perihal hasrat menikah lagi dengan Larasati yang akhirnya bersambut gemilang dengan pernikahan mereka berdua.

   Dialek Jawa yang kental serta penampilan maksimal dari segi pakaian para tokoh hingga dekorasi panggung turut membawa suasana tradisional Jawa yang khas pada pentas.

   “Pakaian dan pembawaan mereka khas sekali, unsur tradisional Jawanya benar-benar tergambarkan,” kata salah satu pengunjung Ida Farida

   Darianto yang sudah 40 tahun berkecimpung di dunia wayang mengatakan skenario lakon ini sudah dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya, tapi pentasnya hanya memerlukan latihan selama lima hari.

   “Aktor kami sudah terlatih, tidak perlu waktu lama dan gladi resik untuk mementaskan lakon ini. Saya ingin menagngkat cerita seorang saudara yang prihatin terhadap saudaranya yang masih jadi pembantu. Udowo sudah menjadi patih, namun Larasati kok masih menjadi pembantu,” ujar Supono yang sudah melanglang ke Eropa dan Australia itu

  Perhatikan Penonton Anak-anak

    Di tengah lakon, seperti lazimnya pentas wayang, para Punakawan mencoba beraksi dengan bertanding nembang. Masing-masing Gareng, Semar, Petruk dan Bagong saling lempar untaian lirik lagu.

  “Kalo pengen genit, duduki orong-orong (lubang meriam), simpan di pantat,” ujar salah satu tokoh Punaraka.

 Alhasil lontaran kata itu mengocok perut ratusan penonton.

  Namun terbesit ihwal prihatin ketika para Punakawan berlelucon dengan menyelipkan aksi kekerasan seperti adegan Semar yang menampar Gareng dengan alat yang menyerupai benda tumpul. Masalahnya, di antara penonton terdapat anak-anak yang belum pandai memilah unsur positif dan negatif pada sajian seni.

   Di sisi lain, salah satu penonton Danang menyatakan kekakugamannya pada pementasan wayang orang seperti ini karena bisa menjaga kebudayaan daerah di Jakarta agar terus lestari.

    “Ada tarian, ada suara gamelan, dan humornya bagus membuktikan semua pemain kompak sekali mementaskan wayang orang. Semoga unsur budaya ini bisa terus bertahan di Jakarta,” ujarnya.

Photo : Rangga



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s