PEMERINTAH BELUM DAFTARKAN DANGDUT KE UNESCO

    Jakarta, 5/4 (ANTARA) – Kepala Unit Budaya United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Jakarta Masanori Nagaoka menyatakan  pihaknya belum menerima permintaan resmi dari pemerintah Indonesia agar dangdut ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya takbenda (intangible).

   “Kami juga mendengar isu itu di beberapa media, namun untuk ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda, unsur itu harus diajukan oleh pemerintah dan melewati pelbagai proses”, kata Masanori, Rabu.

    Sebelumnya pada 3 Maret 2012, Menteri Kesejahtraan Rakyat Agung Laksono mengatakan pada media tentang keinginannya agar dangdut bisa diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya menyusul angklung, wayang dan batik.

    UNESCO membagi budaya menjadi dua kategori yaitu unsur budaya benda seperti tempat beresejarah, pakaian adat, dan unsur budaya takbenda seperti ekspresi, pengetahuan, representasi dan lainnya.

    “Musik dangdut adalah budaya tak benda yang jika ingin disahkan harus benar-benar merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah,” ujarnya.

     ,Saat ini unsur budaya Indonesia yang sedang dalam proses adalah “Noken” dari Papua. Noken  yang merupakan tas tradisional masyarakat Papua dan terbuat dari serat kulit kayu  akan diuji di Komite Antarnegara untuk Perlindungan Warisan Takbenda pada November 2012 di Grenada.

      Manasori mengatakan jika Indonesia ingin dangdut disahkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya takbenda, pemerintah harus bisa merangkul masyarakat secara sinergis untuk mempertahankan dan mengembangkan musik dangdut.

Anak Muda sebagai Pewaris Budaya

   Hubert Gijzen Direktur Kantor UNESCO Jakarta menyatakan anak muda memiliki peran sebagai pewaris pelbagai unsur budaya seperti tari daerah, alat musik daerah, termasuk juga musik dangdut. Peran anak muda untuk mempelajari unsur budaya itu agar tetap hidup dan bisa diwariskan ke generasi mendatang.

    “Anda beruntung jika bisa menemukan dokumentasi budaya , namun peran anak muda tidak hanya sebatas dokumentasi, mereka  harus memahami nilai-nilai budaya itu kemudian mewariskannya” katanya.

   Anak muda bisa mengelola dan mewariskan budaya itu dengan banyak cara seperti pentas seni yang rutin , melalui penerapan pendidikan ilmu budaya melalui dengan formal maupun non formal.

    “Karena dengan usaha yang dilakukan anak muda itu, dan juga apresiasi dari pemerintah, keberadaan dan masa depan budaya itu bisa terus lestari,” kata Gijzen. (T.Indra/



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s