“INVESTASI” WARGA DEMI PETILASAN

Oleh : Indra A. Pribadi

    Ibnu Kaji sedang menyiapkan ratusan kartu iuran pengurusan tanah makam yang akan dia sebarkan pada 225 warga Pinang Griya Permai, Tangerang pada Sabtu (7/4) sore. Sudah belasan tahun Ibnu menjadi koordinator pelaksana pengurusan tanah makam bagi warga pemukiman yang dekat dengan perbatasan Kota Tangerang dan Jakarta Selatan itu.

   Kegiatan pengurusan tanah makam secara gotong-royong sudah jamak ditemui dan menjadi agenda rutin masyarakat. Ibnu mengatakan pengurusan tanah makam secara kolektif ini adalah inisatif untuk memudahkan warga ketika hendak mengurus pemakaman.

    “Warga sebenarnya bisa membeli tanah makam yang disediakan oleh Pemerintah Kota Tangerang di Cengkareng, belakang Bandara Soekarno Hatta, tapi lokasi itu terlalu jauh bagi kami,” kata pria berusia 37 tahun itu

   Pengurusan tanah makam warga Pinang ini difasilitasi oleh Yayasan Uswatun Hasanah sejak tahun 1999. Awalnya pihak yayasan hanya memiliki 150 meter lahan pemakaman, namun sejak tahun 2001, jumlah keanggotaan yang terus bertambah ikut mendorong perluasan tanah makam menjadi 350 meter hingga sekarang 550 meter.

     Menurut Ibnu, warga mengikuti kolektif ini karena menginginkan kemudahan, murahnya harga dan efisiensi untuk mengurus tanah makam. Imam Sa’roni, warga yang sudah bermukim 11 tahun di Pinang Griya mengatakan dia memilih ikut kolektif pengurusan tanah makam karena biaya yang jauh lebih murah dan kemudahan yang ditawarkan.

   “Segala urusan pemakaman seperti orang yang memandikan, tanah kuburan hingga tukang gali sudah dipersiapkan oleh Yayasan, saya tinggal membayar biaya tambahan,” kata pria berusia 53 tahun ini.

     Warga Pinang Griya yang mengikuti kolektif ini membayar iuran sebesar Rp120,000 per tahun. Ketika ada warga yang meninggal dan hendak menggunakan tanah makam itu, biaya yang harus dikeluarkan hanya berupa biaya administrasi sebesar Rp1,500.000 dikurangi 40% dari hasil keanggotaan kolektif.

    Hal ini berbeda dengan warga yang tidak tergabung dalam kolektif pengurusan makam. Warga tersebut akan mengeluarkan biaya yang lebih mahal saat membeli tanah makam dan juga membayar biaya mengurus kematian seperti memandikan jenazah, penggunaan mobil ambulance dan lainnya

   “Warga yang tidak terdaftar, membeli tanah dan mengurus jenazah dengan harga yang mahal sekitar Rp3,500.000 hingga Rp6,000.000,” kata Ibnu.

    Yayasan Uswatun Hasanah kini mempunyai tanah makam di Taman Pemakaman Umum Regency yang hanya berjarak dua kilometer dari pemukiman Pinang Griya Permai.

    Upaya warga Pinang Griya untuk mempersiapkan petilasan juga dilakukan Badriah (47) warga Sawangan, Depok. Proses pemakaman yang rumit dan mahal membuat dia dan tetangganya sesama warga Sawangan memilih untuk mengurus pemakaman secara kolektif.

   “Saya dan kepala keluarga lainnya hanya perlu membayar 5,000 rupiah perbulannya kepada Rukun Tetangga (RT) yang didaulat sebagai koordinator iuran”, kata Ibu yang mempunyai lima anak ini.

    Biaya itu ditambah Rp100,000 ketika tanah makam itu akan digunakan oleh anggota. Badriah mengaku di daerahnya terdapat perbedaan harga untuk warga pendatang.

    Warga pendatang yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) perlu membayar biaya tambahan penguburan sebesar 500,000 rupiah. Sedangkan warga pendatang yang tak memiliki KTP dikenakan biaya penguburan tiga kali lipatnya, atau sebesar 1,500,000 rupiah.

    “Uang lebih yang didapat dari warga pendatang itu sepenuhnya digunakan untuk perluasan dan perawatan tanah makam,” kata Ibu yang merupakan warga asli Depok ini.

    Sedangkan Ibnu menyatakan tidak ada perbedaan biaya untuk warga asli dan pendatang di Pinang Griya. “Harga semua sama, baik asli maupun pendatang, komitmen saya dan Yayasan hanya untuk memberi kemudahan kepada masyarakat,” katanya

 

Memelihara Kedekatan

    Kolektivitas mengurus pemakaman ternyata mampu memelihara kedekatan warga yang kerap tergerus akibat kesibukan individu, apalagi bagi mereka yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaan.

    Menurut Ibnu, yang juga dikenal sebagai pemuka agama setempat, kegiatan-kegiatan sosial seperti ini  mampu menjalin silaturahmi antar warga. Bahkan lebih jauh Ibnu menyatakan keinginannya untuk merangkul semua warga yang berasal dari pelbagai etnis dan agama dalam jalinan hubungan sosial yang harmonis.

    “Selain untuk bersilatirahmi, kegiatan sosial dan keagamaan seperti ini bisa jadi ajang untuk memberdayakan anak muda”, ujarnya.

   Peran aktif anak muda dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti ini memang diharapkan menjadi pilar yang mendukung kokohnya silaturahmi antar warga.  Sebagai warga, Imam mengatakan dampak dari silaturahmi itu terasa ketika ada warga yang meninggal. Warga kompak membantu keluarga yang berduka dengan mendirikan tenda, menyiapkan rumah, menyediakan makanan dan lain-lain.

     Lain halnya dengan Badriah, menurutnya upaya kolektif ini memberi kesempatan kepada dia untuk berderma. Warga asli Depok ini menuturkan setiap bulannya, sebagian dari iuran pemakaman itu akan disisihkan kepada anak yatim.

       “Besarannya biasanya diambil beberapa persen, tapi jelas itu memudahkan kami untuk beramal setiap bulannnya,” ujar Badriah.

     Ibnu pun mengamini hal itu. Baginya nilai-nilai kemanusiaan bisa terus mengalir pada diri masyarakat melalui kegiatan sosial dan agama seperti ini adalah yang terpenting.

    “Sejatinya kolektif ini untuk masyarakat baik yang mampu maupun tidak mampu, dengan iuran itu semua bisa saling membantu,” katanya.

     Belum lama kejadian yang menggemparkan berlalu, ketika seorang Ayah harus menggendong mayat anaknya dari Jakarta ke Bogor karena tak punya biaya membayar Ambulans. Ibnu ingin menghilangkan kisah-kisah pahit seperti itu dengan upaya kolektif ini.

    Ibnu menyatakan jika ada warga yang tak mampu untuk membayar biaya pengurusan dan penguburan jenazah, pihak Yayasan siap membantu. Bahkan mobil ambulance yang disumbangkan oleh salah satu warga, boleh digunakan oleh siapapun.

    “Saya pun siap dipanggil kapan saja untuk membantu mengurus pemakaman, dari mempimpin doa, memanggil tukang gali dan lain – lain,” kata Ibnu yang mengaku tak sampai mengenyam pendidikan perguruan tinggi.

 

Takut Digusur

    Upaya masyarakat untuk mempermudah hidup memang kerap kali menempuh jalan berliku.    Cara kolektif warga membeli tanah pemakaman di (Tanah Pemakaman Umum) TPU Regency, dibanding membeli TPU Tangerang di Cengkareng kadang dihantui rumor penggusuran, apalagi daerah sekitar pemakaman sudah sering terkena gusur.

   Mengenai hal itu, Ibnu mengaku Yayasan tidak bisa memberikan jaminan. Dia mempersilahkan warganya untuk memilih tetap berada dalam keanggotaan atau membeli tanah secara individu di TPU Tangerang

    “Hal itu hanya Pemda (Pemerintah Daerah) yang tahu, saya disini dan yayasan hanya ingin memudahkan warga dengan kemampuan yang ada,” katanya.

   Terdapat juga masalah ketika tanah makam sudah penuh, namun ada anggota atau kerabat anggota yang meninggal dan membutuhkan tanah itu. Ibnu menyatakan Yayasan akan mengambil kebijakan untuk menutup tanah makam milik anggota yang sudah 10 hingga 15 tahun digunakan dan akan menimpanya dengan makam yang baru.

   “Yayasan membutuhkan pengertian warga dan keikhlasannya, karena memang lahan yang terbatas, toh urusan orang meninggal itu dengan Tuhan, bukan hanya dengan makam,” kata Ibnu yang juga aktif mengajar Al-Quran di pelbagai sekolah swasta di Tangerang.

     Bentuk upaya dalam menanamkan kerjasama di setiap kegiatan warga menjadi cermin kentalnya karakter sosial pada diri masyarakat. Inisiatif dan upaya bergotong-royong ini menjadi nilai positif hubungan antarwarga yang tidak terjadi di kegiatan sehari-hari saja, namun juga merasuki gagasan untuk berinvestasi tempat dan cara demi raga di akhir hayat nanti.

 

 

 

 

 



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s