Parni Hadi : Kreativitas Harus Memiliki Kepatutan

   Jakarta, 30/3 (ANTARA) – “Freedom is the matter of creativity, tapi bukan berarti kebebasan dalam berkreativitas itu mengorbankan keakuratan

    Pernyataan itu dengan tegas diucapkan wartawan senior Parni Hadi dalam Bedah Buku “Jangan Panggil Septi Monyet” di Kantor Berita ANTARA, Jakarta Pusat, Jumat (30/3).

    Buku “Jangan Panggil Septi Monyet” adalah kumpulan 46 karya jurnalistik wartawan ANTARA dalam kurun waktu 2007-2011.

     Parni menilai penulisan kisah-kisah dalam buku setebal 248 halaman ini sudah cukup baik, namun masih banyak kesalahan seperti ketidakcermatan penulisan dan cetakan, pemilihan kata (diksi), serta kalimat-kalimat yang terlalu panjang

     “Indikator kecerdasan seoarang wartawan adalah kreativitasnya yang lahir dari rasa kebebasan, namun kebebasan itu memiliki koridor tanpa harus mencederai nilai-nilai informasi,” ujarnya.

     Menurut Parni, yang hampir 40 tahun menggeluti dunia jurnalistik, tantangan wartawan adalah memunculkan kreativitas dari kebebasan yang memiliki kepatutan informasi, seperti kemampuan meringkas tulisan panjang, kecermatan dengan bahasa dan kekayaan kosakata.

     Selain isi buku, Parni juga menyoroti peluncuran buku itu dengan keberadaan konten berita ANTARA. Menurutnya, banyak karya jurnalistik ANTARA yang dapat dibukukan secara tematik dan bisa ditawarkan kepada pelbagai pihak termasuk penyandang dana.

     “Tapi kualitas karya jurnalistik sebagai hasil kreativitas harus tetap menjadi yang utama.” tambahnya.

     Selain Parni, acara yang dipandu oleh Naufal Mahfudz itu juga menyajikan pandangan dari kalangan jurnalis senior seperti Maria D. Andriana dan Mulyo Sunyoto.

 

Kerap Tak Terdengar     

      Seperti ditulis antaranews.com, buku “Jangan Panggil Septi Monyet” ini menuturkan kisah Septi seorang anak perempuan berusia 10 tahun yang tubuhnya dipenuhi rambut tebal menyerupai kera.

     Ayah Septi pergi meninggalkan Ibu dan ketiga saudaran Septi, tak lain karena keadaan tubuh yang menyerupai Kera. Dengan pelbagai keadaan sulit itu, Septi tetap riang dan terus memelihara mimpi dan cita-citanya.

     Selain kisah Septi yang ditulis Debby H. Mano (jurnalis ANTARA di Gorontalo), masih banyak kisah-kisah lain yang dituturkan sesuai langgam berita ANTARA. Semua cerita menyuarakan pesan dari rakyat kecil yang kerap tak terdengar.

      Mutasir (40), dalam “Kaum Lelaki Pemburu Belerang 1-3” yang ditulis oleh Masuki M. Astro (editor Antara Bondowso), adalah  seorang penggali belerang di kawah Gunung Ijen, Jawa Timur. Ayah empat anak ini melewati jalan terjal dan resiko keracunan asap belerang, demi mendapat 90 kilogram belerang.

    Semua jerih payahnya itu semata-mata demi cita-cita menyekolahkan anaknya hingga kuliah. Cita-cita itu terus dia perjuangkan walaupun jalan hidup sering menyulitkannya.

    Pimpinan Umum ANTARA Akhmad Mukhlis Yusuf mengatakan nilai-nilai dalam kisah-kisah sarat nilai kehidupan ini hendaknya meyentuh kepekaan pembaca, hingga dapat mengubah perilaku dan memunculkan karakter baru yang lebih menghargai sesama.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s