Ragam Kehidupan “Imatajinasi”

Pikiran Jessica sang fotografer melanglang ke spektrum negara bersalju saat matanya menangkap visual pria berperahu di tengah gumpalan putih yang memenuhi sungai. Di pinggir sungai terlihat bendeng reyot yang mewakili sekian ratus bendeng di kota metroplitan.
“Aku lihat ini sebagai kritik sosial, ada putih-putih mirip salju di pinggir rumah kumuh di pinggir sungai ya, padahal ini limbah”, komentar salah satu pengunjung.
Gambar yang diambil di daerah Pluit berjudul Danau Salju Indonesiaku karya Jessica Margaretha ini menjadi salah satu dari 189 frame hasil pertautan imajinasi dan penglihatan 32 fotografer muda. “Saya ingin menyampaikan apa yang saya lihat di sekeliling kemudian membalutnya dengan imajinasi saya” jelas Jessica.
Jessica yang juga ketua acara dalam pameran bertajuk “Imatajinasi” menuturkan acara ini merupakan hasil workshop Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) angkatan 17 setelah enam bulan menjalani workshop. Para fotografer berusaha membongkar paradoks antara khayalan dan realitas dibalut unsur estetika melalui lembaran foto.
Para fotografer muda berasal dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, karyawan, hingga dokter. Keberagaman profesi dan latar belakang itu mampu menangkap realitas sosial dengan sudut pandang yang beragam pula.
“Disini saya lihat pesan politik yang ditangkap dengan gambar bayangan tentara di depan istana, sedangkan disitu saya lihat gejala sosial di perkampungan”, kata Andy (23) pengunjung pameran.
Seluruh fotografer dibagi dalam dua kelas, kelas basic (dasar) dan kelas jurnalistik. Peserta kelas basic menyajikan imatajinasi dengan narasi pendek dari berbagai tema kehidupan. Sedangkan 11 fotografer lainnya dari kelas jurnalistik menyuguhkan kumpulan foto yang dikemas dengan narasi kemasan kompleksitas kehidupan sehari-hari.
Seperti narasi streotype tato dalam “Tato adalah Jiwa” karya M. Abdul Azis yang ingin mengangkat tato. Menurut penjelasan foto itu tato adalah ekspresi jiwa dalam memaknai perjalanan hidup yang pahit dan manis. Model dalam kumpulan foto itu adalah orang-orang bertato yang memiliki pekerjaan dan peran dalam kehidupan sehari-hari. Simbol itu yang menjembatani makna penolakan atas stigma negatif terhadap orang bertato. Jessica menambahkan “Meraka (Orang-orang bertato) juga punya pekerjaan dan peran dalam kehidupan sehari-hari”.
Pameran yang berdekatan dengan ulang tahun Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) ke-20 ini juga menjadi bukti dedikasi kantor berita perjuangan ini untuk menggodok edukasi pers visual kepada masyarakat. Foto-foto hasil bidikan fotografer merupakan representasi dari bingkai pemikiran manusia yang dipengaruhi oleh kejadian sehari-hari. Mosista Prambudi selaku pengajar kelas fotografi dasar GFJA menuturkan fotografer harus memiliki wawasan sosial dan budaya visual yang baik agar mampu menyampaikan narasi cerita melalui lembaran foto.
Pameran ini dibuka oleh tokoh-tokoh dari bidang jurnalistik dan kebudayaan seperti Saiful Hadi (Direktur Pemberitaan ANTARA), Firman Ichsan (Ketua Dewan Kesenian Jakarta), Asro Sani (Ketua Dewan Penasehat ANTARA), Jose Rizal (Seniman), Riri Riza (Seniman), dan Oscar Motuloh (Dewan Pembina Workhsop GFJA) ini berlangsung dari 16 Maret hingga 16 April 2012 dan dibuka untuk umum.
Selain pameran foto, pembukaan pameran ini juga menyuguhkan konser musik dengan banyak penampil seperti Float, The Bobrocks, Comparised Ego dan lainnya. Sayangnya sajian musik ini bisa membuat pengunjung tidak bisa menikmati foto-foto yang dipamerkan dekat panggung karena suasana ruangan pameran sudah berubah menjadi arena konser musik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s