Denyut Ekonomi di Balik Desing Kereta

Tangan Darmiati (51) masih terlihat kuat menenteng tiga kantong besar berisi pakaian batik yang baru saja ia borong dari Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Langkahnya melaju cepat menuju jalur kereta nomor tiga lajur Kereta Commuter yang akan mengantarnya pulang ke Depok.
    “Enak naik commuter, sudah adem tak perlu berlama-lama kayak naik bis yang makan waktu dua jam”, ucap Darmiati
    Darmiati adalah potret dari sekian banyak pengguna Kereta Api (KA) Commuter yang gemar berbelanja pakaian di Pasar Tanah Abang. Ketika akhir pekan dan hari libur tiba, penumpang commuter yang biasanya adalah pegawai kantoran berganti menjadi ribuan commuter dengan mayoritas bertujuan sama : berbelanja di Tanah Abang.
  Budi Hermanto petugas tiket Stasiun Tanah Abang megatakan Commuter pada hari biasa bisa mengangkut sampai 12.000 penumpang yang mayoritas adalah pekerja kantoran setiap hari. Sedangkan saat akhir pekan atau hari libur, Commuter bisa mengantarkan 8000 penumpang per harinya.
    “Kebanyakan mereka datang dari Bogor, Serpong dan datang untuk berbelanja” ujar Budi.
    Commuter menjadi pilihan utama masyarakat yang datang dari sekitar Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek). Mereka menikmati kenyamanan dan kemudahan melaju menggunakan kereta yang mulai beroperasi sejak tahun 1976 dengan nama asal KRL Jabotabek ini.
    Terdapat tiga armada Commuter yang melewati Stasiun Tanah Abang. Biasanya para penumpang memilih Commuter berpendingin atau ekspress ketimbang Commuter non-berpendingin.
    Juju (55) bisa duduk santai sambil ngadem dalam gerbong berpendingin hingga tiba di stasiun tujuannya Duri. Murahnya harga tiket bisa membuat Juju dan pebelanja lain menyisihkan uang untuk sekedar membeli makanan atau minuman saat menunggu kereta.
    “Tiketnya hanya 5.500, lumayan murah dibanding naik bis yang bisa 7000”, ujar Juju.
    Pendapat serupa diutarakan Cahyo dari komunitas KRL Mania. Melalui pesan singkat, dia menyatakan secara umum pelayanan kereta bisa dikatakan baik, walaupun masih ada hal-hal yang mesti segera diperbaiki menyangkut pelayanan seperti sosialisasi kebijakan dan hotline customer care yang tak berfungsi.
 
Hidupkan Peluang Usaha
    Segala kemudahan akses menuju Tanah Abang telah menyalakan pelbagai lampu peluang usaha. Juju bisa jadi adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menyambut peluang itu.
Juju membeli bahan dagangannya berupa pakaian muslim dari Pasar Tanah Abang. Harga murah dan koleksi yang lengkap serta kemudahan akses adalah kelebihan Pasar Tanah Abang yang diakuinya telah membantu keberlangsungan usaha Juju selama 25 tahun.
    “Saya biasa ambil per kodi dari Tanah Abang, kemudian saya jual pada tetangga-tentangga saya dan juga teman anak-anak saya di sekolahnya” ucap Juju, yang merupakan pelanggan sejumlah toko pakaian di Blok F, Tanah Abang.
    Juju mengambil untung sebesar 25 ribu dari setiap baju yang terjual. Setiap dua minggu sekali ibu tiga anak ini berbelanja ke Tanah Abang dan pada akhir bulan ia bisa menikmati keuntungan sekitar satu juta rupiah dari usahanya itu.
    Selain masyarakat yang menggunakan KA Commuter, Stasiun Tanah Abang juga kerap kali didatangi penumpang dari luar kota seperti Solo dan Pekalongan yang memanfaatkan moda kereta api ekonomi untuk berbelanja
    Di antara mereka adalah Hadji (41) yang datang bersama kakaknya Mahmudah (43). Mereka berdua adalah bagian dari keluarga yang menggantungkan hidupnya dari usaha pakaian. Mereka mengaku menikmati murahnya tiket, cepatnya kereta dan juga pelayanan dari manajemen kereta api yang semakin baik.
    “Sekarang dengan tiket ekonomi seharga 55 ribu, saya dapat tempat duduk dan sampai lebih cepat daripada saya naik bis” ujar Hadji, pengusaha toko pakaian asal Solo.
Kakak beradik ini rutin berbelanja ke Tanah Abang dan bisa menghabisakan puluhan juta setiap kali berbelanja.
    “Hari ini saya habis 25 juta berbelanja pakaian dari pakaian anak-anak hingga dewasa, biasanya saya ambil untung 15-25 % dari modal awal itu” ujar Hadji yang sudah 15 tahun berdagang pakaian di Pekalongan.
    Hadji, Juju dan Darmiati adalah sebagian orang yang menikmati fasilitas infrastruktur transportasi. Dengan adanya kereta yang cepat dan murah, masyarakat bisa memborong lusinan pakaian baik untuk konsumsi pribadi maupun investasi usaha.
    Infrastruktur kereta yang memudahkan mereka berusaha, secara langsung membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat. Juju dan Hadji adalah kelas menengah yang membantah frasa konsumen pasif dengan memutar pengeluaran mereka menjadi investasi.
    “Harga murah di sini membuka peluang usaha buat saya di Pekalongan”, ucap Hadjji.
    Mahmudah menuturkan banyak saudaranya yang memanfaatkan kereta untuk berdagang batik asli Pekalongan ke Jakarta. Dengan begitu usaha keluarga mereka bisa terbantu.
    Begitu juga Adi (28), pemuda asal Solo. Dia memanfaatkan kemudahan akses melalui kereta untuk berbisnis, setelah melihat peluang membuka toko pakaian dengan segmen konsumsi anak muda.
    “Dengan kereta saya memborong dan membeli model pakaian yang lagi in di Jakarta untuk kemudian dijual di Solo dengan keuntungan minimal 20 ribu per potong”, ucapnya.
    Setiap bulan, pemuda yang memulai usahanya sejak setahun yang lalu ini mampu meraup keuntungan di atas satu juta rupiah.
    Kemudahan berusaha ini akan lebih terasa bagi masyarakat jika perbaikan infrastruktur terus bertambah menyentuh peningkatan fasilitas yang dekat dengan kegiatan usaha mereka.
    Keamanan dan perlindungan bagi keberlangsungan usaha kecil mereka tentu memberi ruang bagi Juju, Hadji, Mahmudah, Adi dan rekan-rekannya untuk terus berkarya dan mengembangkan usaha.
    Di tengah hingar percakapan, mereka saling tersenyum ramah, menandakan sosialisasi yang telah terbangun. Denyut kegiatan eknomoni masyarakat pun telah berlanjut.
Jess, jegezess, jegezess, jess, jegezess …!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s