Suherman Menulis Halus, Memelihara Harapan

Setiap hari Suherman atau biasa dipanggil Herman berteman dengan gumpalan tinta, beberapa pena dan banyak lembar kertas di emperan pertokoan Pasar Baru. Dua puluh tahun lebih ia bergelut menulis halus, bertemu banyak orang dan berkarya sepenuh hati. Gugusan waktu yang lama itu tak pernah membekukan rasa cintanya pada dunia ini.

“Saya menggeluti pekerjaan in, karena memang sudah hobi sih, suka dunia seni, dan corat-coret sejak SMA” ujar pria berusia 42 tahun, asal Yogyakarta ini.

Percikan minat dalam dunia seni dan menulis halus muncul pada diri Herman sejak duduk di bangku sekolah menengah. Lingkungan sekolahnya, Sekolah Tinggi Menengah (STM) Budi Utomo, menjadi tempat penulis halus menjajakan jasa. Herman muda yang memang gemar akan seni tekun menekuni bidang ini dan hal itu membawa ia bermuara pada pekerjaan sebagai penulis halus.

Dinamika Pekerjaan

Setiap hari Herman melewati berpuluh kilometer menggunakan kereta api dari rumahnya di Depok menuju Pasar Baru. Ia menjajakan jasanya sejak pukul 09.00 pagi hingga pukul 05.00 sore. Dengan tarif dari 10 hingga 20 ribu, ia mampu mengantongi keuntungan 100 hingga 200 ribu. “Alhamdulillah cukup, sampai anak saya yang pertama udah kuliah sekarang”, kata Herman.

Air muka Herman berubah. Matanya kian menyala dan memburu ketika ditanya tentang perkembangan teknologi yang membawa manusia pada era digital. “Sekarang buat saya, keberaadaan digital membuat tambah sulit, orang-orang pada pengennya yang praktis, ada komputer”, keluh Herman.

Keberadaan teknologi yang semakin jamak dewasa ini memang kerap menyulitkan pekerja “konvensional” seperti Herman. Namun Herman tak bisa berpaling dari mata pencaharian ini. Selain karena sulitnya mencari pekerjaan lain, Ayah beranak dua ini mengaku hatinya sudah terpaut di bidang tulis halus.

Melalui pengalamannya membuat tulisan halus di sehelai surat berharga seperti ijazah ataus sertifikat, Herman mampu mengguratkan karyanya dalam saksi kehidupan tokoh-tokoh besar. Ia mengaku sering diundang ke pelbagai tempat pertemuan yang dihadiri orang-orang penting untuk membuat piagam dan seritfikat. “Saya pernah nulis halus di ijazahnya Rizal Ramli” ujar Herman bangga saat menyebut nama Mentri Keuangan rezim Gus Dur itu.

Suatu pekerjaan memang menawarkan resiko dan warnanya tersendiri yang menguap menjadi kisah-kisah yang menarik dicermati. Usaha menulis halus untuk ijazah, sertifikat atau piagam rentan dengan tangan-tangan nakal. Banyak orang memaksakan kehendak dengan membuat atau mengoreksi ijazah dan surat berharga lainnya dengan cara ilegal demi kepentingan tertentu.

Herman mengaku sering ditawari untuk membuat ijazah palsu. Banyak modus dalam pembuatan dokumen ilegal seperti itu. Herman tak munafik. Bahkan ia berkilah dengan begitu, ia mampu membantu orang lain untuk mendapatkan pekerjaan, “Setidaknya saya mampu membantu orang punya mata pencaharian”, ujarnya polos. Potret rakyat kecil seperti Herman memang bagai nelangsa. Sebagai rakyat kecil, Herman selalu memelihara mimpi untuk bisa hidup bahagia, walau kadang hal itu menjerumuskannya pada hal-hal yang negatif.

Sebesit harapan selalu ia pelihara agar mampu mengembangkkan usaha tulis halus, sembari melihat dua anaknya yang kini bersekolah di Sekolah Dasar dan Perguruan Tinggi bisa hidup lebih baik darinya. Mimpi dan harapan itu selalu muncul untuk membuat hidupnya bisa seindah guratannya di lembaran lambang kehormatan banyak orang.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s