Maket Demokrasi

Di benak seorang rakyat buruh tani selalu terbesit pertanyaan. “Apa boleh seorang pemimpin bangunnya siang ?”. Buah pikir sederhana ini terlontar setiap rakyat buruh tani itu bertemu setiap orang.

Nilai feodalisme yang masih kental membuat rakyat buruh tani tersandera batas stigma rakyat kecil yang harus ‘manggut-manggut’ pada pemimpin.  Pandangan kelas social yang memasung intelektualitasnya, memaksa mimpi dan imajinasinya berbatas. Bilangan langkah akhirnya membawa ia pada seorang bijak yang pintar dan tertegun mendengar pertanyaan sederhana itu.

“Apa boleh seorang pemimpin bangunnya siang ?” Tanya rakyat buruh tani itu lagi.

 Orang itu tertegun dan mengerinyitkan dahi.  “Anak muda, teruslah bertanya dengan pertanyaan itu. Sepertinya  sepele tapi sebenarnya sangat mendasar dan menyangkut banyak hal tentang konsep kepemimpinan”, jawab orang itu.

Ucapan orang itu itu membuat rakyat buruh tani semakin penasaran, kemudian ia bertemu aparat desa dan bertanya hal itu sekali lagi.  “Apa boleh seorang pemimpin bangunnya siang ?” Tanya rakyat buruh tani itu sekali lagi. “Ngapain kamu nanya-nanya pemimpin boleh bangun siang atau tidak ? Kamu mau subversi, hah ?” jawab aparat desa

Rakyat buruh tani tersebut merupakan metafora  akibat kesenjangan pendidikan dan sosial yang dimaksudkan penulis F.X Rudy Gunawan sebagai reduksi nilai demokrasi dalam cerpen Cerita Rakyat yang Suka Bertanya. Cerpen buah karya penulis yang sudah menelurkan puluhan karya ini bersanding dengan puluhan cerpen lainnya yang ditulis oleh A.S Laksana, Irwan D. Kustanto, Lan Fang, Linda Christanty, Martin Aleida, Miranda Harlan, Oka Rusmini, dan Puthut EA.

                Masing-masing penulis bertutur tentang minimnya elaborasi nilai demokrasi pada kehidupan sehari-hari yang dikemas dengan beragam latar, dari politik, social hingga budaya. Misalnya, penulis Lan Fang mencoba mengangkat nilai- nilai budaya yang dialkuturasikan dengan kejujuran.

Dalam cerita Lan Fang yang berjudul Festival Topeng Nasional, seorang istri jengkel dengan sikap suaminya yang mentautkan hidupnya pada topeng. Setiap hari sang suami hanya membuat dan melukis topeng yang masing-masing memiliki makna dan sifat manusia. Sang istri ingin agar topeng buatan suaminya bisa mendatangkan banyak uang.  Akhirnya sang istri menyuruh suaminya untuk membuat topeng wajah Rahwana.

“Jika  para Pakde Wan itu harus memiliki banyak topeng untuk mengubahubah wajahnya, kau cukup memiliki satu wajah topeng saja. Sebuah topeng tapi tetapi sudah ber-dasamuka-bersepuluh wajah. Dan setelah itu kau adalah Drajat Hartono yang sebenarnya, laki-laki berharta dan mempunyai jabatan yang tinggi” ujar sang istri.

Berpindah pada halaman berikutnya memperlihatkan rekahnya bingkai demokarsi dalam kisah sehari-hari yang ringan dengan pelbagai latar. Oka Rusmini dengan cerpen Grubug mengantarkan padanan buruknya nilai keadilan social dengan ironi kisah seorang nenek yang dipenjara karena dituduh mencuri buah kakao, padahal nenek itu hanya memungutnya dari tanah yang telah direbut perusahaan kakao itu dari keluarganya. Ironi tentang timbangan keadilan telah rusak dengan segepok uang sang pemilik modal.

 Kumpulan sembilan cerpen yang diterbitkan Demos dan berjudul Cerita Rakyat yang Suka Bertanya ini berusaha memberi paparan substansi kebebasan dan nilai hak asasi yang mampu membuka pigura demokrasi yang sering berada dalam konteks politik.

Kesembilan penulis menuturkan kisah sehari-hari yang bisa ditangkap pembaca dengan mudah. Butir kata dalam alunan kalimat yang kaya bisa menarik pembaca untuk menatapkan mata hingga titik terakhir mamu mentautkan manfaat pentingnya nilai demokrasi pada akal dan hati pembaca.

Sejatinya buku setebal 186 halaman yang terbit pada Januari 2010 ini layak dibaca banyak orang dari pelbagai kalangan. Demokrasi tidak hanya untuk mereka yang berpolitik, berkekuasaan, atau berwewenang. Setiap insan yang bernafas dan menjalani sari-sari kehidupan harus menikmati kebebasan dan hak asasi sebagai maket demokrasi.

Image Source



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s