Helo Goodbye

Helo Goodbye

Agustus 2016

Good at goodbye


RATCHANOK BALASKAN DENDAM KEPADA TINE BAUN

Oleh Indra Arief Pribadi

Surabaya, 30/3 (Antara) – Tunggal putri Thailand, Ratchanok Intanon, membalaskan dendamnya dengan memenangkan laga atas pemain “All Star” Eropa, Tine Baun, 9-21, 21-13, 21-12 pada laga penyisihan Piala Axiata 2013 di DBL Arena Surabaya, Sabtu malam.

Duel ini mejadi salah satu pertandingan yang ditunggu-tunggu di babak penyisihan Piala Axiata 2013 karena menghadirkan dua finalis All England 2013, Ratchanok dan Baun. Kedua pemain yang dapat dikatakan perwakilan dua generasi, pada 10 Maret lalu, menyajikan laga dramatis yang akhirnya dimenangkan pemain gaek asal Denmark, Tine Baun, 21-14, 16-21, 21-10.

Ratchanok yang berusia 15 tahun lebih muda dari Baun, saat itu, mampu menyulitkan lawannya itu dan berhasil merebut satu game.

Di laga ini, pemain muda Ratchanok –pemegang juara dunia junior BWF 2009-2011–, harus menelan kekalahan satu game terlebih dahulu dari Baun yang memperkuat All Star Eropa.

Namun Ratchanok berhasil menemukan permainan terbaiknya, ditandai dengan smes-smes keras dan pengembalian jitu yang merepotkan Baun. Ratchanok, yang kini menempati peringkat delapan dunia memaksa peringkat tujuh dunia, Baun, meyerah di dua set terakhir.

Di game pertama, Ratchanok sempat tampil lengah. Baun dengan mudah dapat membaca permainan pemain masa depan Thailand itu. Pengembalian Baun saat permainan net yang melebar ke sisi kanan mengungguli Ratchanok, 2-6.

Ratchanok beberapa kali lengah dalam bertahan dan gagal mengembalikan bola untuk membahayakan Baun. Smes tajam menyusur Baun merontokkan pertahanan Ratchanok, 8-19. Kemudian pukulan net Baun menutup game pertama 9-21.

Di game kedua, Ratchanok bangkit dengan permainan cepat yang merepotkan Baun. Smes Ratchanok beberapa kali menghujam Baun dan sulit dibendung, 4-1

Baun tampak terpancing dengan permainan cepat Ratchanok. Beberapa kali pengembaliannya hanya berujung “out” . Kelengahan Baun ini juga memberikan kesempatan Ratchanok untuk menemukan kembali permainan terbaiknya.

Pengembalian Baun hanya membentur net, 15-7 dan pukulan net Ratchanok tak terbendung 18-8. Ratchanok akhirnya menutup game 21-13 dan memaksa terjadinya rubber set.

Di game penentuan, Ratchanok dan Baun mulai bermain terbuka. Reli panjang antar kedua pemain menghibur sejumlah penonton yang memenuhi DBL Arena Surabaya. Pukulan net Baun yang malah jatuh di bidang sendiri, membuat Ratchanok semakin unggul 11-5.

Reli panjang kembali terjadi. Permainan net ditutup Ratchanok dengan pengembalian ke bidang kanan Baun yang salah diantisipasi dan membuat skor, 19-12 dan terus melaju hingga game poin 12-20.

Mengakhiri reli panjang, pukulan net Ratchanok merepotkan Baun. Baun harus bersusah payah mengembalikan bola, namun usaha itu gagal. Game berakhir untuk kemenangan Ratchanok, 21-12.

Sebelumnya, Boonsak Ponsana berhasil mengalahkan Vladimir Ivanov 21-6, 21-11. Dengan kemenangan Ratchanok, Thailand unggul sementara 2-0. Pertandingan akan dilanjutkan dengan ganda campuran SSudket Prapakamol-Saralee Thoughthongkam melawan Nathan Robertson-Jenny Wallwork dan Boonsak Ponsana-Songphon A menghadapi Ivan Sozonov-Vladimir Ivanov.***4***

Editor : J. Suswanto


HAYOM WARNAI DEBUTNYA DENGAN GEMILANG DI AXIATA

Oleh Indra Arief Pribadi

Surabaya, 30/3 (Antara) – Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Dionysius Hayom Rumbaka tampil gemilang di partai debutnya pada penyisihan Piala Axiata 2013 dengan meraih kemenangan melawan pemain Filipina, Mark Shelley Alcala 2-0 (21-12, 21-9) di DBL Arena Surabaya, Sabtu.

Dengan hasil ini, Indonesia yang menjadi pemuncak klasemen menambah keunggulan sementara menjadi 2-0 atas penghuni dasar klasemen Filipina. Di partai sebelumnya tunggal putri Linda Weni Fanetri menaklukkan Malvinne Ann Venice Alcala 2-0 (21-16,21-11)

Hayom (24), tampak tidak menemui kesulitan berarti menghadapi Mark yang berusia 10 tahun lebih muda darinya. Mark tampak salah menerapkan startegi dengan banyak memberikan bola-bola atas yang malah menjadi “makanan empuk” untuk Hayom.

Setiap bola tanggung dari Mark enggan disia-siakan oleh runner up Indonesia Open Grand Prix Gold 2012, Hayom, untuk kemudian dikonversikan menjadi poin melalui smes kerasnya yang sulit dibendung Mark. Di game pertama Hayom tidak membutuhkan waktu lama mampu unggul 21-12.

Di game kedua, smes Hayom ke bidang kiri Mark mengawali keunggulan 9-3. Hayom terus unggul jauh memanfaatkan Mark yang sudah kehilangan konsentrasi dan tampil tidak tenang. Hayom terus melaju dengan smes tajam menukik ke bidang kiri yang hanya bisa ditatap Mark, 12-3. Mark kerap kali salah langkah mengantisipasi smes Hayom.

Pengembalian Hayom yang melenceng ke luar bidang sempat membuat Mark dapat meraih poin, 12-5. Namun tidak lama kemudian, Hayom kembali mendominasi dan meraih “game point” 20-5.

Satu poin lagi Hayom membuat Indonesia unggul 2-0. Namun percobaan smes yang menyambut bola tanggung dari Mark gagal menyebrangi net. Mark dapat sedikit bernafas lega.

Namun, lagi-lagi Mark memberikan bola tanggung untuk Hayom yang dibalas dengan smes tajam menyusur ke bidang kanan, dan tidak mampu dikembalikan pemain muda Filipina itu, 21-5. Dengan hasil ini Indonesia unggul sementara 2-0 atas Filipina.

Pada partai berikutnya ganda campuran M. Rijal-Debby Susanto menghadapi Philip Escueta-Bianca Carlos dan Hendra Setiawan-M. Ahsan diuji Paul Vivas-Peter Magnaye.***4***

Editor : Masduki Attamami


LILIYANA NATSIR : “KITA SUDAH SELEVEL DENGAN CHINA”

Image

Oleh Indra Arief Pribadi

Surabaya, 29/3 (Antara) – Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia, Liliyana Natsir, menyatakan kualitas permainan dirinya bersama Tontowi Ahmad sudah setingkat dengan pemain China sehingga dia semakin optimistis menghadapi Piala Sudirman pada Mei 2013.

“Kesempatan Indonesia masih sangat terbuka lebar, kita juga sudah selevel dengan China. Yang penting kita harus manfaatkan peluang menang di berbagai nomor,” ujar Liliyana kepada Antara setelah laga melawan Thailand pada babak penyisihan Piala Axiata 2013 di DBL Arena Surabaya, Jumat.

Dalam penyelenggaraan Piala Sudirman ke-13 pada 19-26 Mei 2013 di Kuala Lumpur Malaysia, Indonesia berada satu grup bersama China dan India.

Persaingan sengit akan terjadi antara pemain Indonesia dengan ganda campuran China, Xu Chen-Ma Jin atau Zhang Nan-Zhao Yuniel. Menilik dari pertemuan terakhir dengan ganda campuran China, Indonesia memiliki peluang besar untuk merebut kemenangan, kata Liliyana.

“Kita sudah bermain bagus melawan ganda campuran China, di beberapa pertandinga terakhir,” ujar Liliyana yakin.

Keyakinan Liliyana juga didasarkan pada beberapa pertandingan sebelumnya antara Indonesia dan China.

Untuk mempertahankan gelar All England, Liliyanna-Tontowi berhasil menumbangkan Zhang Nan-Zhao Yuniel 2-0 (21-13, 21-17) awal Maret lalu.

Sedangkan melawan ganda campuran terbaik dunia milik China Xu Chen-Ma Jin, Tontowi-Liliyana memang menelan kekalahan di final Denmark Terbuka Oktober 2012, namun mereka berhasil memaksa pasangan China itu menempuh permainan ketat dengan beberapa kali “deuce” dan rubber game 1-2 (21-23, 26-24, 11-21)

“Terakhir melawan Xu Chen-Ma Jin, Kita memang kalah, tapi kita bisa menyulitkan mereka,” ujarnya.

Sedangkan, pemain tunggal putra Tommy Sugiarto mengatakan dirinya ingin fokus terhadap semua laga yang akan dijalani di berbagai kejuaraan, seperti yang dia jalani saat ini, Piala Axiata 2013. Semua laga di berbagai Kejuaraan, kata Tommy, merupakan kesempatan untuk meningkatkan peforma dan mental tanding untuk berlaga di kompetisi yang lebih berat lagi.

“Saya ingin fokus di semua kejuaraan, pertandingan adalah tetap pertandingan mau di kejuaraan apapun,” katanya.

Piala Sudirman akan berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 19-26 Mei 2013 mendatang. Sejak juara pada perhelatan pertama Piala Sudirman pada 1989, Indonesia tidak pernah lagi berhasil merebut gelar kejuaraan dunia beregu campuran itu. Pada 2011, tim Indonesia hanya mampu mencapai babak semifinal.

Dengan sistem “round robin”, Indonesia minimal harus menjadi juara kedua grup, untuk dapat lolos ke perempat final.

Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) telah menetapkan pemain yang masuk dalam tim bayangan Piala Sudirman.

Berikut tim bayangan Indonesia untuk Piala Sudirman berdasarkan rilis resmi PBSI:

Sony Dwi Kuncoro, Tommy Sugiarto, Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka, Linda Wenifanetri, Aprilia Yuswandari, Adriyanti Firdasari, Bellaetrix Manuputty, Maria Febe Kusumastuti, Rian Agung Saputro, Angga Pratama, dan Hendra Setiawan.

Kemudian Mohammad Ahsan, Muhammad Ulinnuha, Ricky Karandasuwardi, Nitya Krishinda Maheswari, Anneke Feinya Agustine, Suci Rizky Andini, Della Destiara Haris, Greysia Polii, Meiliana Jauhari, Tiara Rosalia Nuraidah, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Muhammad Rijal, Debby Susanto, Fran Kurniawan Teng, dan Shendy Puspa Irawati. Sedangkan untuk posisi manajer, PB PBSI menunjuk Rexy Mainaky.***4***

Editor : J. Suswanto


INDONESIA CAN BE DEMOCRATIC ROLE MODEL : US ENVOY

By Indra Arief Pribadi

    Jakarta, July 15 (Antara) – The United States Ambassador to Indonesia Scot Marciel has stated that Indonesia can be a democratic role model for other countries with large Muslim population by maintaining its inter-religious tolerance, friendship and harmony.

         “I am glad to see several communities gathering here and making friendship. Tolerance and friendship between different religious groups could make Indonesia an example for other countries,” Marciel said in his speech at a fast-breaking dinner with several Muslim organizations here on Monday.

         Marciel, who will end his term in Indonesia this week, further explained about his best memory during three years in Indonesia.

         The Ambassador, who formerly worked as Deputy Assistant Secretary for the East Asia and Pacific Bureau, said openness and warmth of Indonesian people are the most wonderful impressions he had during his service here.

         “I cannot forget how warmly the Indonesian people have welcome me,” he said.

         He further hoped the Indonesian people could foster tolerance and mutual respect between different religious communities.

          “I believe and am optimistic tradition of tolerance and mutual respect in Indonesia will prevail,” Marciel said.

         He vowed he would keep maintaining the peace and harmony in the relations between Muslims and other communities in the United States after his departure.

         “You know, my father in California has e-mailed me and told me that a Muslim family in our hometown has invited me to a fast-breaking meeting next week,” he said.

        “If in the future I am still in the Foreign Affairs Ministry, I hope my duty is still in area in managing relationship to Indonesia,” he added.

          Meanwhile, US Embassy’s deputy chief of mission Kristen F. Bauer, who will be an Ambassador interim, said Indonesia sees challenges in maintaining peaceful relationship between majority and minority religious groups.

         She said that maintaining harmony and tolerance is not only the duty of the government, but also the duty of the community


RIVALITAS AS-CHINA UJI SOLIDARITAS ASEAN

 Image

Text by Indra Arief Pribadi

          Jakarta, 29/6 (Antara) – Rivalitas dua negara adidaya Amerika Serikat dan China untuk memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara, termasuk masalah teritorial laut China selatan, merupakan “batu sandungan” dan ujian terhadap solidaritas negara anggota Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
      Masalah klaim perairan laut China selatan yang sudah berpuluh tahun bergejolak, diyakini berbagai kalangan sulit untuk diselesaikan, meskipun dengan pengaruh organisasi kawasan dan internasional.
      Empat negara ASEAN, Filipina, Vietnam, Brunei Darusalam, dan Malaysia merupakan empat negara pengklaim wilayah, yang masih berselisih dengan China.
      Beijng mengklaim sebagian besar wilayah kaya minyak, gas bumi, dan sumber daya perikanan dengan letak strategis itu, merupakan kedaulatannya.

      Kode Tata Berperilaku (Code of Conduct/CoC) yang merupakan salah satu mandat dari Deklarasi Tata Berperilaku (Declaration of Condcut/DoC) pada 2002, merupakan “impian” negara-negara kawasan, yang dapat menjadi pegangan berperilaku di wilayah perairan itu.
      Ketika kepercayaan dan suasana kondusif laut China selatan mulai terjalin, tepatnya sejak komitmen yang diutarakan Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi seusai bertemu Menlu Indonesia Marty Natalegawa pada 2 Mei 2013, keretakan mulai mewarnai hubungan antarnegara pengklaim dengan berbagai insiden yang terjadi.
       Filipina, negara ASEAN yang paling sering bersitegang dengan China pada beberapa tahun ini, pada Rabu (27/6) mengumumkan peningkatan jumlah akses Amerika Serikat (AS) dan Jepang ke pangkalan militernya.
       “Pemerintah Filipina berencana merancang undang-undang yang memungkinkan AS menghabiskan banyak waktu di pangkalan militer Filipina. Hal ini juga akan ditawarkan kepada militer Jepang,” kata Menteri Pertahanan Filipina Voltaire Gazmin di Manila.
       Apabila ada kesepakatan pemberian akses, lanjut Gazmin, maka akan ada peralatan datang dari kedua negara.
      “Sejauh Jepang menginginkannya, kami menyambut negara lain — terutama Jepang, mengingat mereka mitra strategis — untuk diselaraskan dengan protokol yang ada,” ujarnya menambahkan.
       Alih-alih meredakan suasana, Jepang malah memberikan pernyataan yang cukup konfrontatif dengan merujuk langsung pada sengketa perairan yang melibatkan China.
       Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera  mengatakan, dirinya dengan pemerintah Filipina sudah mempererat kerja sama mengenai sengketa di perairan Asia Timur, yakni laut China selatan dan laut China timur.
      “Kami menghadapi situasi serupa di wilayah Laut China Timur. Jepang kahwatir kondisi di Laut China Selatan dapat mempengaruhi kondisi di laut China timur,” kata Onodera.
      Sebelumnya, Filipina sudah beberapa kali bersitegang dengan China mengenai aksi di perairan sengketa. Tindakan kapal militer China yang mengitari pulau yang diklaim Filipina di perairan itu, memancing “amarah” Presiden Filipina Benigno Aquino III.
      Namun, Filipina pun tak kalah gegabahnya ketika menembak nelayan Taiwan hingga tewas, sehingga sempat membuat situasi di Laut China Selatan menegang.
      Beberapa hari setelah Filipina mengumumkan pemberian akses terhadap AS dan Jepang, Menlu China Wang Yi pada Jumat (28/6) mengingatkan seluruh negara pengklaim wilayah di Laut China Selatan tentang potensi konflik yang dapat berujung pada “malapetaka” karena kehadiran pihak ketiga.
      “Bila beberapa negara-negara pengklaim itu memilih konfrontasi, jalan yang akan mereka tempuh akan menimbulkan malapetaka. Bila negara tersebut memperkuat klaimnya yang lemah dengan melibatkan kekuatan negara asing, upaya mereka akan sia-sia. Itu hanya menyebabkan kesalahan,” kata Wang Yi.
       Pengaruh dua negara dengan kekuatan ekonomi dan pertahanan terbesar di dunia ini dianggap akan mendominasi dalam isu-isu hubungan internasional pada abad 21.
       Menurut pengamat masalah pertahanan dan hubungan internasional Universitas Indonesia Andi Widjajanto, China tengah berusaha menyamakan kekuatannya dengan AS, baik dari sisi ekonomi maupun militer, dan sistem aliansi kedua negara akan mendominasi Asia, termasuk Asia Tenggara.
        Rivalitas dan pengaruh AS dan China dikhawatirkan membuat negara-negara di Asia Tenggara yang terlibat sengketa perairan berpaling pada kepentingan lain dibandingkan stabilitas keamanan kawasan.
        Andi mengatakan AS sudah memelihara sistem aliansinya dengan Jepang, Korea Selatan, Filipina, Thailand, Singapura.
         Seiring dengan  kebijakan pivot AS di Asia Pasifik, diperkirakan akan terjadi pengerahan 60 persen kekuatan angkatan laut negara adidaya itu hingga 2020. Untuk memperkuat pengawasan mereka di Asia Pasifik, AS juga dianggap mempertahankan keberadaan pasukannya di Darwin, Australia, dan terus menambah pengiriman armada tempur ke Singapura.
          Kebijakan-kebijakan ini seakan membuat gejolak China yang juga “beringas” dalam meningkatkan anggaran militernya. Beijing juga diketahui memiliki pengaruh kuat terhadap negara-negara ASEAN, yakni Kamboja, Laos, Myanmar.
          Selain itu, pernyataan Beijing yang mengaku berkomitmen menjaga stabilitas dianggap belum diterjemahkan dengan baik di kawasan perairan.
         Ketika pengaruh dua negara raksasa ini terus meluas dan merasuki negara-negara ASEAN, hal itu  harus “dibentengi” dengan rasa kepemilikan dan solidaritas antarnegara-negara kawasan, kata pengamat hubungan internasional Makarim Wibisono.
         “Pengaruh dua negara raksasa ini sebenarnya merupakan ujian untuk melihat sejauh mana solidaritas negara-negara ASEAN,” kata Makarim, yang juga Direktur ASEAN Foundation.

Komitmen pada CoC
       Setelah kedatangan Menlu China Wang Yi ke Jakarta untuk bertemu Menlu Marty Natalegawa pada 2 Mei 2013, banyak pihak menilai China menunjukan komitmennya untuk mendukung terwujudnya CoC.
       Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Central for Strategic and International Studies (CSIS) Rizal Sukma berpendapat CoC memang bukan untuk menyelesaikan masalah klaim wilayah, namun untuk membangun kepercayaan antarnegara yang bersengketa.
       Ketika kepercayaan sudah terjalin, masalah klaim dapat diselesaikan secara bilateral, kata Rizal kepada Antara saat menyikapi perselisihan Filipina dengan China pada (30/5).
       Menjelang pertemuan rutin ASEAN, termasuk pertemuan rutin yang dimulai akhir pekan ini  di Brunei Darusalam, diperlukan komitmen negara-negara yang bersengketa untuk menahan diri dari segala sikap dan tindakan yang dapat provokatif, kata Rizal.
       Menurut Rizal, AS dan China, memang terlihat sebagai “pemain di belakang layar” isu Laut China Selatan.
       Namun, menurut dia, AS tidak akan gegabah untuk memancing ataupun terpancing melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi pada konflik terbuka karena kepentingan AS, di laut China Selatan hanya jalur navigasi untuk akses perdagangan.
        Filipina merupakan negara yang paling aktif, mencari dukungan mengenai klaim wilayah Laut China Selatan. Selain dari AS, dan ASEAN, Filipna juga membawa masalah Laut China Selatan ke Mahkamah Internasional dengan acuan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS).
       Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Michael Tene, pada akhir Mei lalu, saat menyikapi konflik Filipina dan China karena aksi kapal militer, mengatakan segala konflik yang terjadi di perairan Laut China Selatan merupakan indikasi arti pentingnya kesepakatan antara China dengan negara-negara ASEAN.
        CoC nanti, kata Tene, akan mengatur hal-hal teknis seperti kegiatan kapal di perairan Laut China Selatan secara mendetail, masalah perikanan, serta hal-hal lainnya untuk mencegah timbulnya konflik di jalur perdagangan strategis itu.
       Pengaturan kegiatan kapal ini untuk membuat tatanan perilaku yang sudah disepakati bersama dan memiliki dasar, sehingga jika timbul konflik, penyelesaian dapat kembali merujuk pada acuan di CoC.
        Jika terjadi insiden antarnegara, CoC juga akan mengatur segala mekanisme untuk penyelesaian insiden tersebut.
       “Dengan adanya CoC ini, sebenarnya dapat dihindari upaya-upaya yang mengakibatkan masalah dan lebih ke langkah meningkatkan perdamaian. Masing-masing negara pun perlu mengutamakan dialog, dan negoisasi damai dalam setiap masalah,” ujar Tene.
       Pada pertemuan rutin ASEAN di Bandar Seri Begawan, Brunei Darusalam pada 27 Juni hingga 2 Juli 2013 ini, Menteri Luar Negeri AS John Kerry dijadwalkan hadir dan akan mengangkat isu Laut China Selatan.
       Mengutip situs Sekretariat ASEAN, pertemuan rutin itu terdiri atas  pertemuan tingkat ASEAN (AMM) ke-46, Forum Kawasan ASEAN (ARF) ke-20 dan pertemuan kawasan Asia Timur (EAS) ke-3.
        Sejumlah isu hangat di pertemuan itu akan dibahas, terutama mengenai sengketa Laut China Selatan, selain traktat kesepakatan kawasan bebas senjata nuklir (SEANWFZ), polusi asap akibat kebakaran hutan dan krisis semenanjung Korea.

    Strategi Ganda

   Menurut Andi Widjajanto, setelah pengakuan setiap negara bersengketa dengan keberpihakan pada jalur diplomasi atau pertemuan-pertemuan rutin, tidak ada jaminan retorika dan sikap negara provokatif itu akan terhenti.
   Andi menyebut hal itu sebagai strategi ganda negara-negara Asia. Tatkala pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, sejumlah negara yang bersengketa ingin terus memperkuat kapasitas militer, namun tetap tampak bersahabat dalam setiap forum diplomasi.
   Duta Besar China untuk Indonesia Liu Jianchao pernah mengomentari mengenai kecaman negara-negara anggota ASEAN termasuk AS terhadap aksi China menyangkut sengketa perairan.
    Jianchao mengatakan apa yang diklaim Beijing dan apa yang telah dilakukan selama ini di kawasan perairan merupakan hak sebuah negara berdaulat dan tidak pantas disebut provokatif.
   “China menjadi bagian dari kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa, termasuk negosiasi dan tentunya dengan berbagai kebijakan di dalamnya. Kami tidak melihat ada alasan apapun untuk menyebut China bertindak provokatif,” kata Jianchao  kepada Antara awal bulan lalu.
    Namun, Jianchao menyetuji arti penting dan urgensi komitmen menuju CoC, seraya menambahkan perlunya perhatian terhadap fakta sejarah untuk menyelesaikan masalah klaim.

Editor : Zuhaeri Abdullah


(FOTO) HARGA EMAS TURUN

HARGA EMAS TURUN

JAKARTA, 30/5 – HARGA EMAS TURUN. Seorang penjual sedang merapikan perhiasan emas di salah satu Toko di Pasar Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (30/5). Harga emas per gramnya turun sebesar 7.9 persen dari Rp489 ribu menjadi Rp450 ribu karena dipengaruhi nilai dolar AS yang menguat terhadap sejumlah nilai mata uang, termasuk euro. FOTO ANTARA/Indra Arief P